H. Ichwanudin, M.Pd.I : “Menyelami Lautan Hikmah Ramadhan”

ikainfoadmin

Marhaban Ya Ramdhan
Bersyukur tiada terkira kepada Allah swt atas kesempatan yang diberikan kita untuk bertemu dengan bulan Agung nan Suci Ramdhan. Buklan yang sejak tiga bulan yang lalu kita panjatkan doa agar dapat dipertemukan dengannya. Ramadhan ibarat tamu agung yang senantiasa di nanti kehadirannya. Walaupun demikian, tidak dapat dpungkiri bahwa dalam realitasnya, orang memberikan sambutan yang beragam. Ada yang sangat bahagia, ada yang setengah bahagia, bahkan bisa jadi ada sebagian orang yang menyambutrnya dengan sedikit menggerutu. Semua itu akan sangat tergantung pada kadar keimanan masing-masing. Yang jelas, orang beriman akan sangat bahagia dalam menyambutnya, bahkan begitu merindukan kedatangannya.
Dalam khazanah keislaman terdapat dua istilah yang digunakan dalam menyambut kedatangan seorang tamu. Pertama adalah “ahlan wasahlan”, dan kedua, “marhaban”. Kedua ungkapan itu dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan selamat datang”. Kata Marhaban, berasal dari kata rahb yang berarti luas atau “lapang. Marhaban menggambarkan bahwa tamu itu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dalam menyambut tamu agung itu, ungkapan yang sring digunakan para ulama adalah Marhaban ya Ramadhan.
Menurut riwayat yang disampaikan Ibnu Huzaemah dari Salman al-Farisi, bahwa saat datangnya bulan Suci Ramadhan, Rasulullah menyampaikan pidatonya sebagai berikut :

Wahai kaum muslimin, telah datang bulan Ramadhan, bulan yang agung lagi membawa berkah, rahmat dan maghfiroh. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Di dalamnya ada lailatul qadri, yaitu malam yang memiliki nilai kebaikan lebih tinggi dari seribu bulan.

Kalian diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan-nya di bulan ini, nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah dan doa-doamu diijabah Kenanglah rasa lapar, kasihilah anak yatim Angkatlah tanganmu untuk berdoa.

Wahai manusia, sesungguhnya dirimu tergadai karena amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena dosamu, maka ringankanlah dengan sujudmu.


Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.

Sahabat berkata : Ya Rasulallah, kami tidak mampu berbuat demikian.
Rasulallah SAW meneruskan: jagalah dirimu dari api neraka, Walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka, walaupun hanya dengan seteguk air.

Penggalan pidato Rasulullah di atas menggambarkan betapa agungnya bulan Ramadhan karena banyaknya keistimewaan yang ada di dalamnya.

لو يعلم امتـى ما فى هذا الشهر من الخيرات لتمنوا ان يكون رمضان السنة كلها
Andai ummatku tahu kebaikan-kebaikan yang ada dalam bulan Ramdhan, Niscaya mereka mengharap agar Ramdhan satu tahun penuh.

Nama-nama Bulan Ramdhan
Sekurang-kurangnya, para ulama memberikan enam sebutan untuk bulan agung ini.

Pertama, Ramadhan itu adalah syahrut tarbiyah atau bulan pendidikan. Sebutan ini menggambarkan bahwa pada bulan Ramadhan inilah kaum muslimin dididik secara langsung oleh Allah swt. Pendidikan yang diberikan adalah pendidikan Rabbani, yakni pendidikan yang menanamkan nilai-nilai ketuhanan ke dalam jiwa setiap muslim berupa kesadaran bahwa Allah adalah titik pangkal dan tujuan hidup manusia. Selanjutnya, kesadaran itu diwujudkan dengan menunjukkan kepribadian yang lebih baik atau lebih berkualitas rabbani. Bila tidak, bisa jadi ibadah Ramadhan kita hanya mendapatkan lapar dan haus. Rasulullah saw. Mengingatkan ,
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ مِنْ صِيَامِـهِ اِلَا اْلجُوْعُ وَالْعَطَشُ
“berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak dapat apa-apa dari puasanya itu kecuali hanya lapar dan haus.”(HR Ahmad dan Alhakim)
.
Kedua, Ramadhan adalah syahrul ibadah atau bulan ibadah. Pada bulan Ramadhan, aktivitas ibadah, baik yang bersifat ritual maupun ibadah sosial harus ditingkatkan, baik yang wajib maupun yang sunnah, seperti shalat fardlu, shalat sunnah, tarawih, witir, qiyamul lail, juga memberikan sedekah, memberikan makan kepada orang yang berpuasa. Ibadah sunnah yang dilaksanakan pada bulan ini memiliki nilai pahala yang sebanding dengan ibadah fardu yang dilaksanakan di bulan lain. Sementara ibadah fardlu yang dilakukan, akan dilipatgandakan pahalanya hingga setara dengan tujuh ibadah fardlu yang dilakukan di bulan lain. Kebaikan yang dilakukan di bulan ini dilipat gandakan pahalanya dari sepuluh hingga tujuh ratus lipat.

Ketiga, bulan ramadhan adalah syahrul Quran. Ibnu Katsir menyatakan bahwa pada bulan Ramadhan, Allah pertama kali menurunkan Al-Quran, begitu juga kitab Taurat, Zabur dan Injil. Pada bulan Ramadhan, keadaan jiwa seorang muslim dalam keadaan yang kondusif dan sensitive untuk menerima segala petunjuk Allah. Kalau kita bersedia membaca, mengkaji dan memahami, kemudian mengamalkan Al-Quran pada bulan Ramdhan nanti, maka Al-Quran dengan sendirinya akan memberikan efek bagi jiwa siapa saja yang membacanya, berupa, ketenangan, kedamaian dan ketentraman dalam menjalani hidup ini.

Keempat, bulan Ramadhan adalah sebagai syahrud dakwah atau bulan dakwah. Sebutan ini diberikan karena pada bulan Ramadhan itulah biasanya kegiatan dakwah meningkat. Untuk itu, aktivitas dakwah pada bulan Ramadhan harus dipersiapkan secara matang dan dikelola sebaik mungkin sehingga Ramadhan menjadi titik tolak geliat dakwah di masyarakat kita.

Kelima, nama yang juga biasa disebut untuk bulan Ramadahan adalah sebagai syahrul jamaah atau bulan jamaah. Pada bulan Ramadhan, kesenjangan hubungan antara sesama muslim, antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, relative dapat dijembatani dengan seringnya kita berkumpul di masjid. Tidak hanya itu, kita pun dapat merasakan bagaimana penderitaan yang dialamai oleh orang yang mengalami kekurangan materi. Hal itu dapat menumbuhkan rasa empati, simpati serta solidaritas terhadap sesama.

Keenam, sebutan yang biasa diberikan kepada bulan Ramadah adalah syahrul infaq. Ramadhan sebagai syarul infaq berarti mendidik kaum muslimin untuk menumbuhkan kembali ruhul infaq (jiwa berinfaq) dengan harta. Setelah kita merasakan penderitaan yang dialami orang lemah, maka seyogyanya akan tumbuh solidaritas, kepedulian terhadap sesama. Dari sinilah akan tumbuh kesediaan untuk memberikan sebagian yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan.

Puasa; Kewajiban Bagi Orang Beriman
Dalam QS. Al-Baqoroh : 183 disebutkan :
يَااَيُهَا الَذِيْنَ اَمَنُـْوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلىَ الَذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَكُمْ تَتَقـُوْنَ ( البقرة : 183)
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqoroh : 183)

Dalam ayat di atas, Allah SWT menggunakan panggilan yang mesra kepada orang-orang beriman sebelum menyatakan bahwa mereka itu diwajibkan untuk berpuasa. Yang menjadi audience (mukhotob) dalam ayat di atas adalah orang-orang yang beriman, tidak menggunakan istilah orang-orang Islam. Mengapa orang yang beriman yang wajib puasa ? Ada beberapa alasan yang bisa diajukan. Pertama, orang beriman adalah orang yang percaya kepada Allah SWT, Dzat yang Maha Ghaib, sekaligus Maha hadir atau omnipresent. Kepercayaan kepada Allah yang selalu hadir itu membuat orang beriman tidak berani dan tidak akan mungkin berani untuk makan, minum sepanjang siang hari. Walaupun ia tahu bahwa pada saat itu tidak ada orang yang mengetahui perbuatannya, tetapi dia tidak akan melakukannya. Sikap ini merupakan inti ketakwaan, yakni kesadaran bahwa Allah selalu hadir, kapan dan dimanapun kita berada. Dengan kesadaran ini maka kita tidak akan berani melakukan berbagai macam bentuk pelanggaran aturan hukum meskipun kesempatan itu ada, karena kita yakin bahwa kita selalu dalam pengawasan Allah SWT.

Puasa juga hanya diwajibkan kepada orang beriman karena, orang beriman adalah orang yang memiliki pandangan jauh ke depan. Orang beriman berkeyakinan bahwa kehidupannya itu tidak berhenti pada kehidupan duniawi,.

Kehidupan duniawi adalah kehidupan jangka pendek atau sementara, Dunia dan isinya adalah salah satu terminal yang mesti di lalui tetapi bukan tujuan akhir. Di sana ada tujuan akhir, yaitu akhirat. Bahkan harus diyakini bahwa kebahagiaan akhirat jauh lebih baik, kekal dan lebih bermakna.


وَلَلْاَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ اْلُاُوْلَى
Dan sungguh yang kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia)” (QS. Al-Duha : 5).
Dalam ayat lain Allah juga menegaskan :
وَالْاَخِرَةُ خَيْرٌ وَاَبْقـَى
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la : 17)

Sikap ini dapat menumbuhkan sikap optimisme dan bersedia menanggung derita sementara demi kepentingan kebahagiaan yang hakiki, yakni akhirat. Bukankah seorang yang berpuasa, dia akan bersedia, menahan lapar, haus dan dahaga sepanjang hari karena dia yakin akan nikmat yang jauh lebih besar yang dapat dia rasakan ketika berbuka dan bertemu dengan Allah SWT di akhirat kelak .
وللصائم فرحتـان فرحـة عند الافطار وفرحـة عند لقاء ربـه يوم القيامـة
Bagi seorang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.

Puasa membebaskan manusia dari belenggu rutinitas
Tanpa kita sadari, selama ini kita terbelenggu oleh hegemoni rutinitas. Kita biasa sarapan pagi, makan siang, makan sore, istirahat dengan cukup. Tapi dengan puasa kita dituntut untuk mengubah jadwal rutinitas keseharian kita. Kita diajarkan untuk berani keluar dari belenggu rutinitas, karena rutinitas akan mematikan kreativitas.

Puasa adalah rahmat sekaligus hadiah. Jangan sekali-kali kita menganggapnya sebagai penyengsaraan. Justru, puasa membimbing kita untuk menemukan kembali sisi kemanusiaan kita yang paling penting. Selama ini, kita terbelenggu, disibukkan oleh kepentingan duniawi, dengan puasa kita bisa membebaskan diri dari belenggu dan ketergantungan pada kehidupan materi untuk menemukan sisi kemanusiaan kita yang paling berharga. Puasa mengajarkan kita untuk meniru Allah sesuai dengan kadar kemampuan kita sebagai manusia, yakni tidak makan dan minum juga bersedia berbagi dan memberi kepada orang lain.

Akhirnya, marilah kita bersihkan hati, lapangkan dada untuk menyambut Ramadhan dan mengisi dengan berbagai macam ibadah dan amal kebaikan lainnya. Mudahan-mudahan kita termasuk dalam kategori orang yang bergembira menyambut kedatangan Ramadhan sehingga dapat terbebas dari panasnya api neraka sebagaimana sabda Nabi.

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَمَ الله ُحَسَدَهُ عَلىَ الِنيْرَانِ
Barangsiapa yang merasa senang dan lapang hatinta menyambut kedatangan Bulan Ramadhan, maka Allah haramkan jasadnya tersenuth pansanya api neraka.

Penulis: H. Ichwanudin, M.Pd.I (Ketua MUI Kecamatan Anjatan)

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer